Sabtu, 05 Januari 2013

Sejarah Bakpia Pathok


Bakpia sebenarnya berasal dari negeri Tiongkok atau Cina yang aslinya bernama Tou Luk Pia yang berarti kue pia kacang hijau. Kue ini berbentuk bulat, Bakpia mulai berakulturasi dengan budaya Jawa bahkan bisa menjadi makanan khas Yogyakarta adalah berkat keuletan dari Liem Yung Yen (Pendiri Bakpia 75). Yung Yen adalah warga kampung Pathuk, daerah sebelah barat kawasan Pecinan ( Malioboro dan Gandekan).  Awalnya ia menjajakan bakpia itu dari kampung ke kampung-kampung di daerah Yogyakarta, itu dimulai pada tahun 1948. Selain itu Yung Yen juga melakukan inovasi pada isi bakpia dengan menggunakan kacang hijau yang dihaluskan seperti yang sudah biasa kita lihat sekarang. Waktu itu masih diperdagangkan secara eceran dan dikemas dalam besek tanpa label, kemudian proses tersebut semakin berlanjut, mengalami perubahan dengan kemasan karton yang dilengkapi label tempelan.
Bakpia inovasi Yung Yen terasa lebih membumi dan cocok dengan lidah Jawa, sehingga dengan cepat masyarakat merespon positif terhadap bakpia tersebut. Lalu peluang bisnispun segera direspon oleh warga Tionghoa yang lain yang berada didaerah Pathuk. Tak sedikit yang kemudian mengikuti jejak Yung Yen untuk berjualan bakpia isi kacang hijau. Bila orang Tionghoa lebih mengenal dengan nama Pia, namun entah mengapa sebutan bakpia itu muncul dari lidah orang Jawa, kemungkinan adalah untuk menggabungkan produk dari Yung Yen yaitu kata Bakpau dan Pia, sehingga disingkat menjadi Bakpia. Namun Bakpau Yung Yen tidak seterkenal Bakpianya sekarang.

Tidak hanya Yung Yen yang terkenal dengan Bakpia Pathuknya. Salah satu produsen bakpia “pribumi” alias warga Yogyakarta yang cukup populer adalah pada tahun 70-an adalah Nitigurnito yang tinggal di daerah Taman sari. Bakpia buatanya agak berbeda dengan buatan Yung yen. Bakpia Nitigurnito lapisan kulitnya lebih tebal, berwarna putih dengan bagian tengah menjadi kecoklatan karena dipanggang, sedangkan Bakpia Pathuk berkulit tipis dan mudah rontok. 

Dengan segera, bakpia Nitigurnito menginspirasi warga sekitar Tamansari untuk memproduksi dan membuka toko bakpia. Bahkan bagi warga asli Yogyakarta, Bakpia Tamansarilah yang dianggap sebagai bakpia khas Yogyakarta. Namun tampaknya etos dagang orang Jwa tidak seulet orang Tionghoa. Toko bakpia di daerah Tamansari tidak bertahan lama, banyak toko yang tutup, sehingga industri Bakpia di wilayah itu terpuruk dan tak meninggalkan sisa.
 
            Lain halnya dengan Bakpia Tamansari, Bakpia Pathuk malah makin mencuat namanya, karena banyaknya warga Pathuk yang membuat usaha Home Industri dengan mengikuti Jejak Yung Yen sebagai pembuat Bakpia, maka kawasan tersebut dikenal sebagai sentral pembuatan dan penjualan Bakpia yang paling terkenal di Yogyakarta. Kemasan Bakpianya pun tampil dengan kemasan baru dengan merek dagang sesuai dengan nomor rumah seperti 75,55,25 dan lainnya. Kemudian diikuti munculnya bakpia-bakpia dengan inovasi yang berbeda. Demikian pesatnya perkembangan “kue oleh-oleh” itu hingga mencapai booming sekitar tahun 1992 sampai sekarang sehingga menjadi ikon wisata kota Yogyakarta dalam hal pusat oleh-oleh khas kota Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar